Kamis, 13 Desember 2012

JEJAK-JEJAK PENGGANTI 2




THE SECOND MISSION TO SAD
Sindiran angin

Cukup banyak suara, tong..tong..tong.. bunyi pentongan mamang tek wan kudengar baru saja lewat dibawah, makanan sepupunya bakso ini jujur baru kukenal di jambi inilah, aku pikir dulu tek wan sama dengan bak wan, ternyata tidak. Beberapa bunyi burungpun mulai bergaduhan, riuhan komentar dari berita pagi yang terdengar samar dari TV teman sebelah kamarpun menyibukkan telingaku, belum lagi entah bunyi mesin apa yang kudengar dari jauh pagi ini sudah mulai saja dengan ganas membakar bahan bakarnya, pagi yang sibuk.
Terbangun dari kegalauan telinga. Hari ini tidak ada jadwal kuliah, jadi aku berniat ingin menghadiahkan diri dengan menghasilkan sebuah
tulisan pagi ini, ya, karya. Sambil mencari inspirasi, kukibas kain jendela untuk membebaskan cahaya masuk, sambil berdiri menatap mentari yang entah dilangit mana sekarang berada, akupun terfikir. Waktu terus saja menciptakan delta-delta baru. Beberapa satuan seperti tahun, bulan, minggu dan haripun terus saja memperbaharui statusnya. Hari ini akan segera dimulai, dan berfikir kedepan masih banyak yang mintak untuk kita beri perlakuan agar segera dipelajari dan selesaikan lebih baik lagi dari sebelumnya, itulah nanti golongan orang-orang yang beruntung, semoga kita semua termasuk, Amin.
Masih mencari inspirasi yang mau ditulis, ku sibak jejeran buku yang hanya beberapa itu diatas lemari itu, kucari kata-kata yang mungkin menginspirasi, tidak ketemu, kubalik lagi menatap keluar kaca, kusarungkan tangan kedalam terali jendela dan kemudian memperbaiki kerudung yang padahal baik-baik saja. Tiga detik bersama angin kecil, akhirnya ide tulisannya dapat. Ia seperti menyindir pikirku agar ingat pada tutur itu.
“Adek, kenapo kuenya dak dimakan cak kawan-kawan lain..?”
“Untuk adek, “ katanya singkat.

Lansung saja mataku menghadiahkan senyum untuknya. Manis.. “bisik hatiku kagum”. Ya, ini dia kisah bersama SAD Senami Jambi.
Deadline.
Pagi itu minggu 09 Desember 2012, besok adalah deadline sebuah kompetisi nasional yang akan ku ikuti, dari semalam aku berusaha menyelesaikan tulisannya agar berangkatnya aku ke SAD hari ini dengan perasaan tenang, yup..semua tugas dimendalo sudah harus diselesaikan. Jam sudah menunjukkan pukul 06.54 wib, berdasarkan keputusan rapat kemaren sore jam 07.00 wib sudah berangkat dan yang telat akan ditinggal. Aku yang tentu tidak akan berani menyusul sendiri jika ditinggal mencoba memenuhi syarat itu.
Akhirnya 4 menit akupun sampai di area perjanjian berkumpul, teng jam 07.00 wib, kok sepi ya, jangan-janga aku ditinggal ? sibuk hatiku bertanya pada area tak berpenghuni itu. Segera ku ambil posisi stand by ternyaman,  ku matikan kontak motor dan menunggu sambil melipat kedua tangan, clingukan ke ujung jalan. Tak lama kemudian agent ke-2 datang, Shanty ravael, ya itu dia nama FB sahabatku yang satu ini. Pertanyaan yang sangat wajarpun ia lontarkan sambil nafas yang masih ngos-ngos-an, “mana yang lain ?“ tanyanya sambil mengambil posisi pemberhentian ternyaman juga, “ perasaanku enak, kita yang pertama, yang lain belum datang “ jawabku dengan nada sedikit ditekan. “o gitu.. sudah sarapan?, tanyanya lagi, “Belum..” jawabku, “ini..” katanya sambil menyodorkan sebuah goreng yang masih hangat-hangatnya, terlihat uap panasnya didinding sangkek berwarna merah itu mulai terhapus karena gesekan dindingnya “ hmm.. panas dan plastik, kemudian didalanya makanan, sangat tidak baik “, jawab jiwa kimiaku. Tidak mau menolak dan lapar juga akhirnya satu gorengan itu sekarang cukup menyamankan perutku, tepat ketika gigitan ke-3 tadi kak turino sebagai ketua tim dan beni datang, tak lama sesudah itu kak linda, menyusul denni dan kak dodo. Tujuh agent sudah berkumpul saatnya menunggu kak cici, niki, tiwi, dan kak sugi. Tepat saat jam 07.30 wib semua tim lengkap dan akhirnya kamipun berangkat. 
Kurang lebih dua jam perjalanan, pagi itu kami dengan tujuh motor segera bertolak dari gerbang unja mendalo menuju lokasi. Karena sedikit jauh dan mengingat waktu beberapa supir masing-masing kendaraan melaju tanpa kompromi. Aku dengan sahabatku ketinggalan dibelakang, sempat keliru dengan jalan yang terasa begitu panjang membuat aku terfikir kalau kami sudah berhasil membelah wilayah Jambi yang dalam peta Sumatera tampak begitu kecil itu, tidak mau ambil resiko kamipun memutuskan untuk bertanya pada warga yang mulai tampak jarang, “ permisi ibuk, maaf, kalau mau ke dusun senami jambi kemana ya ?”, o.. lurus seja dek, sampai ketemu gerbang tua di ujung jalan ini lalu masuk saja” jawab beliau menjelaskan, “o.. begitu, baik terimakasih banyak ibuk, permisi”, kamipun mengikuti instruksi yang diberikan, jaringan mulai hilang, perjalanan kami semakin memasuki pedalaman kecamatan serdadi, kalau tidak salah nama daerah di plang pinggir jalan saat tersangkut dimataku waktu itu adalah itu.

Multi kegiatan kompetisi dihutan senami
     Beberapa motor yang tersiksa dengan keadaan jalan selama dua jam perjalanan itupun kini mengistirahatkan mesinnya. Pengendaranya kudengar sibuk berbincang didalam sebuah rumah sambil meminta izin untuk kedatangan kami kali ini, karena hari semakin tinggi kamipun memulai kegiatan dalam rencana “dengan bersegera. Seperti biasa rumah pertama yang kami tuju adalah rumah cik yam, nenek tua yang satu ini sudah kami anggap nenek kami sendiri, jadi kami beramah tama dulu. “ Lah lamo dak nampak-nampak, Ali mano ?” tanya beliau dengan logatnya. “iya cik, ado kesibukan lain di kampus, jadi baru bisa datang sekarang “jawab ketua tim sekenanya sambil menyisipkan tawa kecil diujung kalimatnya, sudah kuduga beliau akan menanyakan hal yang sama seperti terakhir kami kesana dulu, lagi-lagi kak Ali*) jadi selebnya. 

      Tak lama sesudah bercerita tentang bagaimana kesehatan dan kesibukan beliau, dan setelah beliau menjawab “aku ini cam ikolah.., dak nak makan kini, sakik perut aku, dak suko makan gorengan, minyaknyo bikin aku nak mual” keluh beliau panjang. “jadi apolah yang dimakan cik?” tanya kak linda, “ ubi”, jawab beliau singkat, tiba-tiba ada suara kecil memanggil “kakak unja..” katanya polos, kami terkejut, panggilan baru, ternyata gentong dan kawan-kawan sudah siap diteras kantor posyandu tua itu. Pasalnya mereka memang sudah diberi tahu akan kedatangan kami kepada Eka, kulihat beberapa hari yang lalu kak dodo sibuk menanyai kami satu persatu akan no hp yang bisa dihubungi ke Suku Anak Dalam itu, ya mereka sudah canggih. Sambil mengintip-ngintip mereka terus memanggil-manggil panggilan itu.
 Meng-iya-kan panggilan, kamipun segera menuju kerumunan semangat nan ceria itu, nakal mereka menandakan kalau mereka girang dan senang. Yup ! pendekar lingkungan, itulah generasi yang akan kami ciptakan di  kawasan ini. Alasan pertama yang jelas adalah karena SAD adalah kelompok masyarakat yang paling dekat dengan alam dan hutan. Begitu..
Memulai kegiatan doapun diintruksikan. Sekarang doa dengan nada yang sedikit berbeda dibawakan itu kudengar hampir usai, setelah perkenalan lansung saja ketua tim menawarkan permainan. “Berbalas pantun”, jawab seorang suara dari kerumunan lugu itu, kemudian dengan semanagat sahabatku santi meresponnya, “Ok.. siapo yang nak duluan..” kataya menggoda adik-adik itu agar berani duluan. “Nangsang kak “ kata suara  lagi, “Ok.. mano Nangsang ?”, beduo kak sama raju” sanggahnya spontan. Sebentar hatiku bertepuk tangan, Jambi memang melayu banget, karismanya mampu menembus lapisan-lapisan hutan rimba tempat suku anak dalam itu kini tinggal. Akhirnya tanpa banyak pertimbangan salah satu diantara merekapun memulainya.

Hati-hati bermain sepeda
Kalau tidak ada kuncinya
Hati-hati bermain cinta
Kalau tidak ada buktinya

Jangan ditanya
Kapan lulus kuliah
Gak dapat anaknya
Mamanya boleh lah

Miris, beberapa diantara mereka mulai terkontaminasi oleh pendewasaan yang belum pada waktunya. Akhirnya untuk memperbaiki keadaan, tim memutuskan untuk mengadakan lomba berpantun tentang cinta alam dan lingkungan, yup.. itu dia, merumuskan masalah, tinjauan lapangan, membuat hipotesa dan menarik kesimpulan, penyelesaian masalah dengan metode ilmiah, Rengkee. Mengetahui kondisi lapangan yang seperti itu maka muncul kesimpulan kenapa rencana “A” harus segera dilaksanakan, memanfaatkan kemampuan dengan pengalihannya ke fungsi yang lebih baik tentu akan menghasilkan produk-produk  yang inovatif (bernilai tambah) pula.

Kali ini kami melakukan pendekatan, dengan mengajak tujuh belas adik-adik itu bermain dan berlagu bersama sepertinya cukup untuk membuat mereka betah akan kami beri perlakuan beberapa waktu kedepan. Aksi pertama dimulai dari nyanyi bersama. Ketua tim membuka bahasanya, mengajak kami semua yang ada di teras posyandu tua dengan bau yang sedikit aneh karena sudah lama menjadi sarang kelelawar itu menyanyikan sebuah lagu dengan nada naik-naik kepuncak gunung beserta lirik yang sudah sedikit diberi perlakuan.

Jalan-jalan kedusun senami
Indah-indah sekali, kawan
Jalan-jalan kedusun senami
Indah-indah sekali, kawan

Kiri kanan kulihat saja
Masih banyak pohonnya
Kiri-kanan kulihat saja
Masih banyak pohonya...



“Kedepan, sepertinya ini akan jadi lagu semangat tim rimba echoschool” bisik hatiku tergeli-geli. Setelah bernyanyi bersama kami menawarkan jika ada yang ingin memimpin nyanyi selanjutnya. Tiba-tiba “aku..aku..aku..” teriak suara sikecil, “ok..siapo namonyo dek “, tanya santi, “namo aku ima azzahra, nyanyi potong bebek angsa”, cetusnya semangat, dan nyanyi potong bebek angsapun dilagukannya dengan girangnya.
Hari semakin siang, beberapa permainan cukup memeberi mereka kegemmbiraan, sedikit materi awalpun tentang mengapa kita harus menjaga dan mencintai lingkungan sudah disispkan dalam permainan tadi, saatnya aksi berburuh sampah dan istirahat.
Zuhur segera tiba, tampak matahari yang sudah diatas kepala, beberapa menit lagi jatuh dari titik kesetimbangannya. Lelah juga setelah bermain sambil belajar bersama mereka, sebagai salah satu langkah kecil kami di awal ini, kami membawa botol minum sendiri-sendiri dari rumah, untuk meminimalisir sampah botol minum plastik dilingkungan kita, sayang airnya sudah habis. Menuju mesjid yang terletak disamping sebuah kedai kamipun mintak minum disana, ibuknya baik, boleh, dan kami senang. Ba’da zuhur kami akan memasuki hutan lagi, jadi harus siap amunisi.
     Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 wib, setelah berisirahat sebentar dengan kripik singkong sebagai cemilan siangnya kamipun melanjutkan perjalanan, air wuduk saat shalat tadi seperti menghapus kelelahan yang ada. Menyusuri jalan kecil yang diselimuti hijaunya hutan adalah sensasi yang tak biasa, asri, banget pokonya, sejuk. Cuma ya.. gak ada listrik dan terpencil, itu dia yang namanya kehidupan suku anak dalam. Setelah selesai menyusuri jalan kecil itu barulah kami bertemu sekelompok kehidupan SAD lagi, lansung saja kami menuju sebuah rumah, disanalah kami menyampaikan maksud dan tujuan kami kembali pada pak Rt-nya, beliau jelas saja mendukung, sambil menghisap rokok lintang 6-nya beliau menjawab bak pejabat saja, bahasanya lumayan bagus, menurutku beliau sudah sering keluar, makanya dapat bahasa-bahasa seperti it, karena memang seperti itu biasanya, kita akan lebih punya banyak kosa kata bicara ketika mendengar orang lain membicarakan dalam kata-katanya.

Tidak lama sesudah itu kamipun segera menyelesaikan tugas kami, menyususri jalan kecil itu untuk berburuh anak-anak lagi . dapat tujuh orang, syukur... karena hari semakin sore dan mengingat perut yang minta segera diberi perhatian kamipun memutuskan untuk segera kembali ke peraduan, dan misi hari ini selesai. Pendekatan pada adik-adik yang sudah terdata pada kunjungan pertama, pemberian frame pikiran awal terkait rancangan kegiatan kedepan, pergerakan   selanjutnya dan pendataan baru di SAD lebih dalam lagi Fix. 

         Akhirnya selesai juga tulisan yang satu ini, Alhamdulillah. Ya, Kenikmatan ketika berhasil mencipta sebuah tulisan, itulah hadiah dari, dan untuk penulis itu sendiri, oleh karena penulis otomatis punya tulisannya sendiri, maka dari itu saya “Penulis” ya, ini tulisan saya, mana tulisanmu..?. ^ ^








 :.

0 komentar: