THE
SECOND MISSION TO SAD
Sindiran angin
Cukup
banyak suara, tong..tong..tong.. bunyi pentongan mamang tek wan kudengar baru
saja lewat dibawah, makanan sepupunya bakso ini jujur baru kukenal di jambi
inilah, aku pikir dulu tek wan sama dengan bak wan, ternyata tidak. Beberapa bunyi
burungpun mulai bergaduhan, riuhan komentar dari berita pagi yang terdengar
samar dari TV teman sebelah kamarpun menyibukkan telingaku, belum lagi entah
bunyi mesin apa yang kudengar dari jauh pagi ini sudah mulai saja dengan ganas
membakar bahan bakarnya, pagi yang sibuk.
Terbangun
dari kegalauan telinga. Hari ini tidak ada jadwal kuliah, jadi aku berniat ingin menghadiahkan diri dengan menghasilkan
sebuah
tulisan pagi ini, ya, karya. Sambil mencari inspirasi, kukibas kain jendela untuk membebaskan cahaya masuk, sambil berdiri menatap mentari yang entah dilangit mana sekarang berada, akupun terfikir. Waktu terus saja menciptakan delta-delta baru. Beberapa satuan seperti tahun, bulan, minggu dan haripun terus saja memperbaharui statusnya. Hari ini akan segera dimulai, dan berfikir kedepan masih banyak yang mintak untuk kita beri perlakuan agar segera dipelajari dan selesaikan lebih baik lagi dari sebelumnya, itulah nanti golongan orang-orang yang beruntung, semoga kita semua termasuk, Amin.
tulisan pagi ini, ya, karya. Sambil mencari inspirasi, kukibas kain jendela untuk membebaskan cahaya masuk, sambil berdiri menatap mentari yang entah dilangit mana sekarang berada, akupun terfikir. Waktu terus saja menciptakan delta-delta baru. Beberapa satuan seperti tahun, bulan, minggu dan haripun terus saja memperbaharui statusnya. Hari ini akan segera dimulai, dan berfikir kedepan masih banyak yang mintak untuk kita beri perlakuan agar segera dipelajari dan selesaikan lebih baik lagi dari sebelumnya, itulah nanti golongan orang-orang yang beruntung, semoga kita semua termasuk, Amin.
Masih
mencari inspirasi yang mau ditulis, ku sibak jejeran buku yang hanya beberapa
itu diatas lemari itu, kucari kata-kata yang mungkin menginspirasi, tidak
ketemu, kubalik lagi menatap keluar kaca, kusarungkan tangan kedalam terali
jendela dan kemudian memperbaiki kerudung yang padahal baik-baik saja. Tiga detik
bersama angin kecil, akhirnya ide tulisannya dapat. Ia seperti menyindir
pikirku agar ingat pada tutur itu.
“Adek,
kenapo kuenya dak dimakan cak kawan-kawan lain..?”
“Untuk
adek, “ katanya singkat.
Lansung
saja mataku menghadiahkan senyum untuknya. Manis.. “bisik hatiku kagum”. Ya,
ini dia kisah bersama SAD Senami Jambi.
Deadline.
Pagi
itu minggu 09 Desember 2012, besok adalah deadline sebuah kompetisi nasional
yang akan ku ikuti, dari semalam aku berusaha menyelesaikan tulisannya agar
berangkatnya aku ke SAD hari ini dengan perasaan tenang, yup..semua tugas
dimendalo sudah harus diselesaikan. Jam sudah menunjukkan pukul 06.54 wib,
berdasarkan keputusan rapat kemaren sore jam 07.00 wib sudah berangkat dan yang
telat akan ditinggal. Aku yang tentu tidak akan berani menyusul sendiri jika
ditinggal mencoba memenuhi syarat itu.
Akhirnya
4 menit akupun sampai di area perjanjian berkumpul, teng jam 07.00 wib, kok sepi
ya, jangan-janga aku ditinggal ? sibuk hatiku bertanya pada area tak
berpenghuni itu. Segera ku ambil posisi stand by ternyaman, ku matikan kontak motor dan menunggu sambil
melipat kedua tangan, clingukan ke ujung jalan. Tak lama kemudian agent ke-2
datang, Shanty ravael, ya itu dia nama FB sahabatku yang satu ini. Pertanyaan
yang sangat wajarpun ia lontarkan sambil nafas yang masih ngos-ngos-an, “mana
yang lain ?“ tanyanya sambil mengambil posisi pemberhentian ternyaman juga, “ perasaanku
enak, kita yang pertama, yang lain belum datang “ jawabku dengan nada sedikit
ditekan. “o gitu.. sudah sarapan?, tanyanya lagi, “Belum..” jawabku, “ini..”
katanya sambil menyodorkan sebuah goreng yang masih hangat-hangatnya, terlihat
uap panasnya didinding sangkek berwarna merah itu mulai terhapus karena gesekan
dindingnya “ hmm.. panas dan plastik, kemudian didalanya makanan, sangat tidak
baik “, jawab jiwa kimiaku. Tidak mau menolak dan lapar juga akhirnya satu
gorengan itu sekarang cukup menyamankan perutku, tepat ketika gigitan ke-3 tadi
kak turino sebagai ketua tim dan beni datang, tak lama sesudah itu kak linda,
menyusul denni dan kak dodo. Tujuh agent sudah berkumpul saatnya menunggu kak
cici, niki, tiwi, dan kak sugi. Tepat saat jam 07.30 wib semua tim lengkap dan
akhirnya kamipun berangkat.
Kurang lebih dua
jam perjalanan, pagi itu kami dengan tujuh motor segera bertolak dari gerbang
unja mendalo menuju lokasi. Karena sedikit jauh dan mengingat waktu beberapa
supir masing-masing kendaraan melaju tanpa kompromi. Aku dengan sahabatku
ketinggalan dibelakang, sempat keliru dengan jalan yang terasa begitu panjang
membuat aku terfikir kalau kami sudah berhasil membelah wilayah Jambi yang dalam
peta Sumatera tampak begitu kecil itu, tidak mau ambil resiko kamipun
memutuskan untuk bertanya pada warga yang mulai tampak jarang, “ permisi ibuk,
maaf, kalau mau ke dusun senami jambi kemana ya ?”, o.. lurus seja dek, sampai
ketemu gerbang tua di ujung jalan ini lalu masuk saja” jawab beliau
menjelaskan, “o.. begitu, baik terimakasih banyak ibuk, permisi”, kamipun
mengikuti instruksi yang diberikan, jaringan mulai hilang, perjalanan kami semakin
memasuki pedalaman kecamatan serdadi, kalau tidak salah nama daerah di plang
pinggir jalan saat tersangkut dimataku waktu itu adalah itu.
Multi
kegiatan kompetisi dihutan senami
Beberapa
motor yang tersiksa dengan keadaan jalan selama dua jam perjalanan itupun kini
mengistirahatkan mesinnya. Pengendaranya kudengar sibuk berbincang didalam sebuah
rumah sambil meminta izin untuk kedatangan kami kali ini, karena hari semakin
tinggi kamipun memulai kegiatan dalam rencana “dengan bersegera. Seperti biasa
rumah pertama yang kami tuju adalah rumah cik yam, nenek tua yang satu ini sudah
kami anggap nenek kami sendiri, jadi kami beramah tama dulu. “ Lah lamo dak
nampak-nampak, Ali mano ?” tanya beliau dengan logatnya. “iya cik, ado
kesibukan lain di kampus, jadi baru bisa datang sekarang “jawab ketua tim
sekenanya sambil menyisipkan tawa kecil diujung kalimatnya, sudah kuduga beliau
akan menanyakan hal yang sama seperti terakhir kami kesana dulu, lagi-lagi kak
Ali*) jadi selebnya.
Meng-iya-kan panggilan, kamipun segera menuju
kerumunan semangat nan ceria itu, nakal mereka menandakan kalau mereka girang
dan senang. Yup ! pendekar lingkungan, itulah generasi yang akan kami ciptakan
di kawasan ini. Alasan pertama yang
jelas adalah karena SAD adalah kelompok masyarakat yang paling dekat dengan alam
dan hutan. Begitu..
Hati-hati
bermain sepeda
Kalau tidak ada
kuncinya
Hati-hati
bermain cinta
Kalau tidak ada
buktinya
Jangan ditanya
Kapan lulus
kuliah
Gak dapat
anaknya
Mamanya boleh
lah
Miris, beberapa diantara mereka
mulai terkontaminasi oleh pendewasaan yang belum pada waktunya. Akhirnya untuk
memperbaiki keadaan, tim memutuskan untuk mengadakan lomba berpantun tentang
cinta alam dan lingkungan, yup.. itu dia, merumuskan masalah, tinjauan lapangan,
membuat hipotesa dan menarik kesimpulan, penyelesaian masalah dengan metode
ilmiah, Rengkee. Mengetahui kondisi lapangan yang seperti itu maka muncul
kesimpulan kenapa rencana “A” harus segera dilaksanakan, memanfaatkan kemampuan
dengan pengalihannya ke fungsi yang lebih baik tentu akan menghasilkan produk-produk
yang inovatif (bernilai tambah) pula.
Kali ini kami melakukan
pendekatan, dengan mengajak tujuh belas adik-adik itu bermain dan berlagu bersama
sepertinya cukup untuk membuat mereka betah akan kami beri perlakuan beberapa
waktu kedepan. Aksi pertama dimulai dari nyanyi bersama. Ketua tim membuka
bahasanya, mengajak kami semua yang ada di teras posyandu tua dengan bau yang
sedikit aneh karena sudah lama menjadi sarang kelelawar itu menyanyikan sebuah
lagu dengan nada naik-naik kepuncak gunung beserta lirik yang sudah sedikit diberi
perlakuan.
Indah-indah sekali, kawan
Jalan-jalan kedusun senami
Indah-indah sekali, kawan
Kiri kanan kulihat saja
Masih banyak pohonnya
Kiri-kanan kulihat saja
Kiri-kanan kulihat saja
Masih banyak pohonya...
“Kedepan,
sepertinya ini akan jadi lagu semangat tim rimba echoschool” bisik hatiku
tergeli-geli. Setelah bernyanyi bersama kami menawarkan jika ada yang ingin
memimpin nyanyi selanjutnya. Tiba-tiba “aku..aku..aku..” teriak suara sikecil, “ok..siapo
namonyo dek “, tanya santi, “namo aku ima azzahra, nyanyi potong bebek angsa”,
cetusnya semangat, dan nyanyi potong bebek angsapun dilagukannya dengan girangnya.
Hari semakin
siang, beberapa permainan cukup memeberi mereka kegemmbiraan, sedikit materi
awalpun tentang mengapa kita harus menjaga dan mencintai lingkungan sudah disispkan
dalam permainan tadi, saatnya aksi berburuh sampah dan istirahat.
Zuhur segera
tiba, tampak matahari yang sudah diatas kepala, beberapa menit lagi jatuh dari
titik kesetimbangannya. Lelah juga setelah bermain sambil belajar bersama
mereka, sebagai salah satu langkah kecil kami di awal ini, kami membawa botol
minum sendiri-sendiri dari rumah, untuk meminimalisir sampah botol minum
plastik dilingkungan kita, sayang airnya sudah habis. Menuju mesjid yang
terletak disamping sebuah kedai kamipun mintak minum disana, ibuknya baik,
boleh, dan kami senang. Ba’da zuhur kami akan memasuki hutan lagi, jadi harus
siap amunisi.
Jam
sudah menunjukkan pukul 13.00 wib, setelah berisirahat sebentar dengan kripik
singkong sebagai cemilan siangnya kamipun melanjutkan perjalanan, air wuduk
saat shalat tadi seperti menghapus kelelahan yang ada. Menyusuri jalan kecil yang
diselimuti hijaunya hutan adalah sensasi yang tak biasa, asri, banget pokonya,
sejuk. Cuma ya.. gak ada listrik dan terpencil, itu dia yang namanya kehidupan
suku anak dalam. Setelah selesai menyusuri jalan kecil itu barulah kami bertemu
sekelompok kehidupan SAD lagi, lansung saja kami menuju sebuah rumah, disanalah
kami menyampaikan maksud dan tujuan kami kembali pada pak Rt-nya, beliau jelas
saja mendukung, sambil menghisap rokok lintang 6-nya beliau menjawab bak
pejabat saja, bahasanya lumayan bagus, menurutku beliau sudah sering keluar,
makanya dapat bahasa-bahasa seperti it, karena memang seperti itu biasanya,
kita akan lebih punya banyak kosa kata bicara ketika mendengar orang lain
membicarakan dalam kata-katanya.
Tidak
lama sesudah itu kamipun segera menyelesaikan tugas kami, menyususri jalan kecil
itu untuk berburuh anak-anak lagi . dapat tujuh orang, syukur... karena hari
semakin sore dan mengingat perut yang minta segera diberi perhatian kamipun memutuskan untuk
segera kembali ke peraduan, dan misi hari ini selesai. Pendekatan pada adik-adik yang sudah terdata pada kunjungan
pertama, pemberian frame pikiran awal terkait rancangan kegiatan
kedepan, pergerakan selanjutnya dan pendataan baru di SAD lebih dalam
lagi Fix.
Akhirnya
selesai juga tulisan yang satu ini, Alhamdulillah. Ya, Kenikmatan ketika berhasil mencipta
sebuah tulisan, itulah hadiah dari, dan untuk penulis itu sendiri, oleh karena penulis otomatis
punya tulisannya sendiri, maka dari itu saya “Penulis” ya, ini tulisan saya, mana tulisanmu..?. ^ ^
:.

0 komentar:
Posting Komentar