Jumat, 27 Juli 2012...
Liburan baru saja mulai, subuh itu aku
bersyukur sekali karna kembali bisa terbangun dari kasur kapas yang cukup empuk
dikamarku seperti dulu. Mendengar azan subuh yang terdengar berkumandang keras
disebelah rumah kemudian dengan leluasa membebaskan diri dari gelutan selimut
adalah sensasi yang sudah lama kurindukan. Walaupun masih terasa pegal karna
baru jam tiga tadi sampai dirumah dengan lima belas jam perjalanan jambi-
padang’setelah menyambar kerudung hitam dengan manik-manik di sisi kiri dahinya
itu sambil tersiuk-siuk kubuka pintu kamar. Sinar putih terang yang menguasai
ruang tengah mengetuk kelopak mata dan membuatku membukanya lebar-lebar, “ini
dia susana yang selama ini kurindukan tiap subuh”, bisik hatiku pelan seolah
segan mengusik keheningan ruangan tengah sederhana yang menjadi syurga kami
sekeluarga selama ini.
Iseng saja sebelum wudhu’ ku duduk
dulu diatas sofa tua dipojok ruangan, dari sana kuboroskan pandangan keseisi
ruang, semua kisah yang tersimpan dimemoriku seperti terputar ulang saat kucoba
melempar penglihatan ketitik-titik wilayah dimana kisah itu terlahir. Tepat
diatas tikar batang padi yang terhampar di bagian tengah ruangan persegi
panjang itu dimataku tertayang masa
ketika kami dengan bahagia saling tergelak bersama mendengar kata-kata
menggelitik Apak yang menyelinap dalam
asiknya diskusi belanja pekanan
aku dengan Amak. Apak yang seolah tidak merasa bersalah dengan sakitnya perut
kami lantaran tertawa dengan cepat lansung menyeruput kopinya dipagi yang cukup
dingin itu. Tayangan Mama dan Aa yang menjadi tontonan rutin beliau setiap
pagipun menjadi pengalih pandang. Kuseret lagi mataku kebagian depan ruangan, dikursi
tamu tampak kami berlima yang waktu itu baru pulang tarawih dari mesjid
Darussalam, mesjid terbesar dikampungku. Disana menjelma kami dulu yang tengah sibuk
memasakkan sebuah keputusan keluarga untuk persiapan lebaran nanti. Sangat
hangat dan penuh cinta. Terbangun dari lamunan Iqomahpun berkumandang, tak lama
berlalu Amakpun memanggilku untuk segera berwudhu’ sementara beliau menunaikan
rawatib dulu untuk sesudahnya shalat subuh berjamaah denganku. Awal libur yang
baru. Menjalani kegiata yang tidak seperti biasa, melihat-lihat rumah dan
kampung dengan keadaan berbeda, setiap sudut pandang mata menceritakan
kisah-kisah yang pernah terjadi dulunya.
Pagi Kelabu...
Kerinduan seperti mulai membenih dihatiku, membenalu di
sisa sisa hariku berada dirumah. Lima minggu yang lalu aku menyelesaikan bimbel
intensifku di ibukota dan empat minggu sesudahnya aku mendapati pengumuman
tentang kelulusanku disebuah universitas yang terletak disebuah kota dalam
hutannya, tempat biasa sekelompok suku tertinggal ditemukan-suku kubu anak dalam.
Segera kuberanjak dari pangkuan Amak yang sedang mencoba
mengkhatamkan qurannya dhuha itu, mukena renda biru yang juga baru saja
kugunakan untuk menunaikan dhuha segera ku lepas, mencoba izin pamit kekamar
pada Amak untuk menyelesaikan sesuatu. Amak tidak melemparkan pertanyaan-akupun
lansung berjalan hingga akhirnya memasuki ruangan sebesar 3 x 3 meter itu.
Itulah kamarku, kamar dengan sebuah jendela kecil menghadap kesamping rumah,
kamar yang biasa kugunakan untuk melepas lelah, kamar yang selalu setia ku ajak
bicara ketika ku sedang ingin bercerita, beberapa juga kugunakan untuk
berdiskusi dan sebagainnya, kamar yang menjadi saksi semua bagaimana
persiapanku untuk menghadapi setiap pagi hari dan kemudian kuceritakan hasilnya
pada malam hari.
Bak
gadis mentah yang sedang pandai-pandainya berhias mentari pagi itu, sangat
segar dan begitu indah. Tembakan cahayanya yang menyilaukan membuat hanyut
mataku dalam pantulan beberapa berkas sinar ultraviolet di gelas kaca-bekas air
minumku semalam. Segera kukibas kain jendela untuk memperluas kekuasaan cahaya pagi
diwilayah kamarku, dan kemudian kulihat lagi gelas tadi, sekarang ia semakin
tampak indah dengan ekor pelangi disisi bawah seberang datangnya tembakan
cahaya, bibirku terpaksa menyunggingkan senyumnya dan sontak hatiku berbisik
IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Pembiasan cahaya, itulah salah satu realisasi
konsep ilmu yang kudalami selama ini di SMA.
Tidak ingin
berdiri lama-lama untuk menyaksikan fenomena ilmiah itu akupun bersegera
membuka laptop biru kesayanganku. Kulihat sticky
notesku minggu ini list-an akhir
minggu yang lalu. “Prepare go to
UNJA” itulah satu-satunya agenda yang akan ku utak atik segera. Ku hela nafas
panjang sambil melipatkan tangan diatas meja seperti saat aku siap menerima
pelajaran di bangku SD dulu, Tanpa kusadar punggung meja yang membelakangi
tempat tidur itu mulai digelitik jari-jariku, selang beberapa ketukan badanpun
kurebahkan mengiringi mata yang mulai menerawang ke dua tahun yang lalu. Masa
ketika gejolak api semangatku menggila menentu, masa ketika motivasi itu
membuncahkan kutu-kutu pemalasku dan mengusirnya jauh.
***
Subuh itu listrik padam, diluar kabut menebal, dingin
pagi dengan liarnya merambah menguasai ruangan, aku yang semalam ketiduran
diruang tengah dibangunkan Apak untuk shalat subuh. Kami sengaja tidur diruang
tengah karena keinginan Apak yang beberapa bulan ini dihinggapai penyakit yang
akhirnya menjadi malaikat maut beliau-radang
akut Bronkitist. Aku yang tidur tepat didekat Apakpun terbangun oleh sapa
suara parau yang penuh cinta itu, “nak.. subuh” terdengar pita suara beliau kering
dan macet, sambil setengah sadar lansung saja kutuju kamar mandi untuk
berwudhu’, sementara itu ibu dan kakakku yang ternyata sudah bangun terlebih
dahulu mulai sibuk dengan aktivitas yang baru saja lahir pagi itu. Kini
dinginnya subuh mulai pecah oleh aktifitas masing-masing, ada Amak yang sibuk
menyiapkan keperluan Apak dan ada juga uni yang sibuk merapikan keadaan rumah
dengan status “kondisi pagi” itu.
Setelah selesai shalat, ku benamkan sebentar wajahku
dalam sujud yang sedikit kesiangan, dengan tidak bosan kusebut doa yang sama
beberapa kali pada tuhan, berharap dengan teramat dalam untuk kesembuhan Apak
tercinta. Setelah merasa sangat kerdil dengan pengaduan kalimatku diawal
pengharapan kinipun aku kembali merasakan kebesaran hati berhusnuzhan doa akan terkabulkan. Akhirnya
dengan senyum optimis akupun bangkit dan kemudian kembali menuju Apak yang
sedang disuapi kokek (nasi lembut
bercampur sedikit santan dan garam yang biasa disajikan untuk orang sakit agar
mempermudah proses pencernaan) oleh Amak.
Apakpun
selesai sarapan, aku yang juga dari tadi menikmati hasil pengemisan beberapa
suapan pada Amak lansung menawari Apak
seperti biasa bajalan-jalan pagi,
kali ini beliau tidak mau, entah kenapa mendadak beliau jadi tidak ingin
kemana-mana. Ditengah keherananku itu tiba-tiba beliau bertaya “ Uni bilo
baliak nak?” “bekko siang pak, palingan jam tigo alah sampai, sasudah zuhur uni
baru bisa barangkek pak” jawabku hormat.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, pagi ini aku
memutuskan untuk tidak sekolah, mengingat hari ini juga tidak ada pelajaran.
Sejak seminggu lalu aku selesai ujian semester dua, jadi hari ini masih class meeting. Apak yang dari tadi
kutemani duduk diberandapun menanyakan status sekolahku hari itu dan akupun
menjawabnya dengan jelas bahwa hari ini hari terakhir class meetingku jadi aku tidak apa-apa kalau tidak sekolah. Apakpun
diam sambil mengalihkan pandang yang tadi menatapku penuh tanya dengan sedikit
menengadah keatas, sepertinya beliau sedikit setuju dengan jawabanku, aku yang
dari tadi bertengger disisi kiri kursi Apakpun bergerak sekenenya sambil
menatap mentari pucat yang dari tadi kelihatan ragu untuk keluar dari
peraduannya .
***
Setelah usai shalat zuhur Apakpun kembali gelisah dengan
penyakitnya, sekarang Apak bertanya lagi padaku tentang kepulanga uni- kakak
pertamaku yang terjebak dipedalaman kota sebagai honorer di sebuah SD kecil,
“uni sadang di jalan pak..” jawabku membuat beliau sedikit tampak tenang walau
dada beliau yang sedari tadi maju mundur karena sesak nafas itu tak jua kunjung
henti.
Radang akut bronkitis menurut ilmu kesehatan semacam penyakit
dimana terjadi inveksi hebat disaluran pernapasan, salah satu penyebabnya
adalah kebiasaan merokok yang berlebihan, gejalah awalnya seperti; melemahnya
daya tahan tubuh, kemudian cepat lelah dan kemudian sesak napas karna terjadi
penyumbatan saluran pernapasan oleh lendir di kerongkongan. Semacam gejalah
yang sulit dianalisa untuk sampai ke kesimpulan peradangan.
Akhirnya unipun sampai, apakpun tampak puas walau semakin
lelah dengan napasnya. Hari sudah menunjukkan pukul 15.45 wib, aku yang sedari
tadi berada disamping beliau ikut merasa lelah, sangat membuatku lameh (Lemas), ingin rasanya bisa
membantu, tapi apa yang bisa ku lakukan ? tidak ada” jawabku lagi mencoba
berdamai dalam hati. Beberapa usaha sudah pernah kami coba, mulai dari
penyedotan lendir yang akhirnya cukup karna begitu membuat ayah seperti
kesakitan dan sangat nestapa sampai memberikan oksigen tambahan. Semua usaha
itu nihil, tidak ada yang bisa membuat tidur Apak bisa nyenyak seperti dulu
lagi, pandangan beliau mulai layu, tapi jelas tampak bagiku bahwa saat itu,
ditengah-tengah kami yang sejak tadi sangat tidak bisa berbuat apa-apa dengan
napas beliau’ apak tengah menunaikan shalat terakhirnya, Ashar.
Tamu tak di undang itu datang...
Senja itu rumah sangat ramai. Entah kenapa semua sepupuku
datang, mereka seolah tahu dengan perpisahan panjang yang akan segera terjadi.
Dengan ajaib Apak yang biasanya berjalan dengan dipapah mendadak kuat seperti
sediakala masuk kedalam kamar, langkah beliau seperti datang untuk menyahut
ajakan malaikat maut yang sudah siap menjemput beliau disana, dengan sekejab
beliau rebahkan tubuh yang seketika itu juga melemah, ternyata inilah
detik-detik kepergian beliau. Kakak-kakakku mulai mengeluarkan tangisnya, ibu
dari tadi berada disamping ayah mencoba memanfaatkan detik-detik terakhir itu
untuk mengucap syahadat bersama, sementara aku sibuk terfikir “inilah ketetapan
yang pasti datang itu” Kematian, kata itu sangat angker terdengar di ngiangan
telingaku, seperti nada seram yang biasa aku perdengarkan pada pendengar dalam
kultum saat MDA ku dulu.
Tidak
tahu pasti kapan apak pergi senja itu, yang jelas ketika azan magrib
berkumandang aku yang dari tadi menjaga apak dibagian kaki mulai merasakan
hangat itu hilang, ibu ada dibagian kepala Apak, sementara kedua kakakku berada
disisi kiri dan kanan beliau, segera akupun mengucap salam untuk perjalanan
Apak tercinta kealam sana. Matapun kupejam mencoba membayangkan lambaian tangan
kanan apak menguatkan kami yang ditinggalkan. Tangan kiri beliau digenggam akrab oleh malaikat
yang ada disebelah, aku mencoba tabah walau akhirnya air asin itu tetap
memberontak keluar dari mata yang dari tadi sengaja kupicingkan untuk menahan
amukannya. Apak sudah berpulang kerahmatullah, sampai esok siang hanya jasad
tempat dimana ruh yang selalu dengan cinta menjaga kami sekeluarga itu
bersemayam yang bisa ku pandang bangga atas perjuangan beliau yang selalu
semangat melawan penyakit dengan kesungguhan iman yang beliau punya. Hormat
ananda untuk Apak kami tercinta. Semoga Allah mempertemukan kita kembali
bersama-sama sekeluarga disyurga-Nya. Amin

0 komentar:
Posting Komentar