Sabtu, 08 Desember 2012

Mengais Kenangan..




Jumat, 27 Juli 2012...
            Liburan baru saja mulai, subuh itu aku bersyukur sekali karna kembali bisa terbangun dari kasur kapas yang cukup empuk dikamarku seperti dulu. Mendengar azan subuh yang terdengar berkumandang keras disebelah rumah kemudian dengan leluasa membebaskan diri dari gelutan selimut adalah sensasi yang sudah lama kurindukan. Walaupun masih terasa pegal karna baru jam tiga tadi sampai dirumah dengan lima belas jam perjalanan jambi- padang’setelah menyambar kerudung hitam dengan manik-manik di sisi kiri dahinya itu sambil tersiuk-siuk kubuka pintu kamar. Sinar putih terang yang menguasai ruang tengah mengetuk kelopak mata dan membuatku membukanya lebar-lebar, “ini dia susana yang selama ini kurindukan tiap subuh”, bisik hatiku pelan seolah segan mengusik keheningan ruangan tengah sederhana yang menjadi syurga kami sekeluarga selama ini. 
            Iseng saja sebelum wudhu’ ku duduk dulu diatas sofa tua dipojok ruangan, dari sana kuboroskan pandangan keseisi ruang, semua kisah yang tersimpan dimemoriku seperti terputar ulang saat kucoba melempar penglihatan ketitik-titik wilayah dimana kisah itu terlahir. Tepat diatas tikar batang padi yang terhampar di bagian tengah ruangan persegi panjang itu dimataku tertayang masa  ketika kami dengan bahagia saling tergelak bersama mendengar kata-kata menggelitik Apak yang menyelinap dalam  asiknya  diskusi belanja pekanan aku dengan Amak. Apak yang seolah tidak merasa bersalah dengan sakitnya perut kami lantaran tertawa dengan cepat lansung menyeruput kopinya dipagi yang cukup dingin itu. Tayangan Mama dan Aa yang menjadi tontonan rutin beliau setiap pagipun menjadi pengalih pandang. Kuseret lagi mataku kebagian depan ruangan, dikursi tamu tampak kami berlima yang waktu itu baru pulang tarawih dari mesjid Darussalam, mesjid terbesar dikampungku. Disana menjelma kami dulu yang tengah sibuk memasakkan sebuah keputusan keluarga untuk persiapan lebaran nanti. Sangat hangat dan penuh cinta. Terbangun dari lamunan Iqomahpun berkumandang, tak lama berlalu Amakpun memanggilku untuk segera berwudhu’ sementara beliau menunaikan rawatib dulu untuk sesudahnya shalat subuh berjamaah denganku. Awal libur yang baru. Menjalani kegiata yang tidak seperti biasa, melihat-lihat rumah dan kampung dengan keadaan berbeda, setiap sudut pandang mata menceritakan kisah-kisah yang pernah terjadi dulunya.

Pagi Kelabu...
            Kerinduan seperti mulai membenih dihatiku, membenalu di sisa sisa hariku berada dirumah. Lima minggu yang lalu aku menyelesaikan bimbel intensifku di ibukota dan empat minggu sesudahnya aku mendapati pengumuman tentang kelulusanku disebuah universitas yang terletak disebuah kota dalam hutannya, tempat biasa sekelompok suku tertinggal ditemukan-suku kubu anak dalam.
            Segera kuberanjak dari pangkuan Amak yang sedang mencoba mengkhatamkan qurannya dhuha itu, mukena renda biru yang juga baru saja kugunakan untuk menunaikan dhuha segera ku lepas, mencoba izin pamit kekamar pada Amak untuk menyelesaikan sesuatu. Amak tidak melemparkan pertanyaan-akupun lansung berjalan hingga akhirnya memasuki ruangan sebesar 3 x 3 meter itu. Itulah kamarku, kamar dengan sebuah jendela kecil menghadap kesamping rumah, kamar yang biasa kugunakan untuk melepas lelah, kamar yang selalu setia ku ajak bicara ketika ku sedang ingin bercerita, beberapa juga kugunakan untuk berdiskusi dan sebagainnya, kamar yang menjadi saksi semua bagaimana persiapanku untuk menghadapi setiap pagi hari dan kemudian kuceritakan hasilnya pada malam hari. 
Bak gadis mentah yang sedang pandai-pandainya berhias mentari pagi itu, sangat segar dan begitu indah. Tembakan cahayanya yang menyilaukan membuat hanyut mataku dalam pantulan beberapa berkas sinar ultraviolet di gelas kaca-bekas air minumku semalam. Segera kukibas kain jendela untuk memperluas kekuasaan cahaya pagi diwilayah kamarku, dan kemudian kulihat lagi gelas tadi, sekarang ia semakin tampak indah dengan ekor pelangi disisi bawah seberang datangnya tembakan cahaya, bibirku terpaksa menyunggingkan senyumnya dan sontak hatiku berbisik IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Pembiasan cahaya, itulah salah satu realisasi konsep ilmu yang kudalami selama ini di SMA.
            Tidak ingin  berdiri lama-lama untuk menyaksikan fenomena ilmiah itu akupun bersegera membuka laptop biru kesayanganku. Kulihat sticky notesku minggu ini list-an akhir minggu yang lalu. “Prepare go to UNJA” itulah satu-satunya agenda yang akan ku utak atik segera. Ku hela nafas panjang sambil melipatkan tangan diatas meja seperti saat aku siap menerima pelajaran di bangku SD dulu, Tanpa kusadar punggung meja yang membelakangi tempat tidur itu mulai digelitik jari-jariku, selang beberapa ketukan badanpun kurebahkan mengiringi mata yang mulai menerawang ke dua tahun yang lalu. Masa ketika gejolak api semangatku menggila menentu, masa ketika motivasi itu membuncahkan kutu-kutu pemalasku dan mengusirnya jauh.
***

            Subuh itu listrik padam, diluar kabut menebal, dingin pagi dengan liarnya merambah menguasai ruangan, aku yang semalam ketiduran diruang tengah dibangunkan Apak untuk shalat subuh. Kami sengaja tidur diruang tengah karena keinginan Apak yang beberapa bulan ini dihinggapai penyakit yang akhirnya menjadi malaikat maut beliau-radang akut Bronkitist. Aku yang tidur tepat didekat Apakpun terbangun oleh sapa suara parau yang penuh cinta itu, “nak.. subuh” terdengar pita suara beliau kering dan macet, sambil setengah sadar lansung saja kutuju kamar mandi untuk berwudhu’, sementara itu ibu dan kakakku yang ternyata sudah bangun terlebih dahulu mulai sibuk dengan aktivitas yang baru saja lahir pagi itu. Kini dinginnya subuh mulai pecah oleh aktifitas masing-masing, ada Amak yang sibuk menyiapkan keperluan Apak dan ada juga uni yang sibuk merapikan keadaan rumah dengan status “kondisi pagi” itu.
            Setelah selesai shalat, ku benamkan sebentar wajahku dalam sujud yang sedikit kesiangan, dengan tidak bosan kusebut doa yang sama beberapa kali pada tuhan, berharap dengan teramat dalam untuk kesembuhan Apak tercinta. Setelah merasa sangat kerdil dengan pengaduan kalimatku diawal pengharapan kinipun aku kembali merasakan kebesaran hati berhusnuzhan doa akan terkabulkan. Akhirnya dengan senyum optimis akupun bangkit dan kemudian kembali menuju Apak yang sedang disuapi kokek (nasi lembut bercampur sedikit santan dan garam yang biasa disajikan untuk orang sakit agar mempermudah proses pencernaan) oleh Amak.
Apakpun selesai sarapan, aku yang juga dari tadi menikmati hasil pengemisan beberapa suapan pada Amak  lansung menawari Apak seperti biasa bajalan-jalan pagi, kali ini beliau tidak mau, entah kenapa mendadak beliau jadi tidak ingin kemana-mana. Ditengah keherananku itu tiba-tiba beliau bertaya “ Uni bilo baliak nak?” “bekko siang pak, palingan jam tigo alah sampai, sasudah zuhur uni baru bisa barangkek pak” jawabku hormat.
            Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, pagi ini aku memutuskan untuk tidak sekolah, mengingat hari ini juga tidak ada pelajaran. Sejak seminggu lalu aku selesai ujian semester dua, jadi hari ini masih class meeting. Apak yang dari tadi kutemani duduk diberandapun menanyakan status sekolahku hari itu dan akupun menjawabnya dengan jelas bahwa hari ini hari terakhir class meetingku jadi aku tidak apa-apa kalau tidak sekolah. Apakpun diam sambil mengalihkan pandang yang tadi menatapku penuh tanya dengan sedikit menengadah keatas, sepertinya beliau sedikit setuju dengan jawabanku, aku yang dari tadi bertengger disisi kiri kursi Apakpun bergerak sekenenya sambil menatap mentari pucat yang dari tadi kelihatan ragu untuk keluar dari peraduannya .
                                                            ***
            Setelah usai shalat zuhur Apakpun kembali gelisah dengan penyakitnya, sekarang Apak bertanya lagi padaku tentang kepulanga uni- kakak pertamaku yang terjebak dipedalaman kota sebagai honorer di sebuah SD kecil, “uni sadang di jalan pak..” jawabku membuat beliau sedikit tampak tenang walau dada beliau yang sedari tadi maju mundur karena sesak nafas itu tak jua kunjung henti.
            Radang akut bronkitis menurut ilmu kesehatan semacam penyakit dimana terjadi inveksi hebat disaluran pernapasan, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan merokok yang berlebihan, gejalah awalnya seperti; melemahnya daya tahan tubuh, kemudian cepat lelah dan kemudian sesak napas karna terjadi penyumbatan saluran pernapasan oleh lendir di kerongkongan. Semacam gejalah yang sulit dianalisa untuk sampai ke kesimpulan peradangan.
            Akhirnya unipun sampai, apakpun tampak puas walau semakin lelah dengan napasnya. Hari sudah menunjukkan pukul 15.45 wib, aku yang sedari tadi berada disamping beliau ikut merasa lelah, sangat membuatku lameh (Lemas), ingin rasanya bisa membantu, tapi apa yang bisa ku lakukan ? tidak ada” jawabku lagi mencoba berdamai dalam hati. Beberapa usaha sudah pernah kami coba, mulai dari penyedotan lendir yang akhirnya cukup karna begitu membuat ayah seperti kesakitan dan sangat nestapa sampai memberikan oksigen tambahan. Semua usaha itu nihil, tidak ada yang bisa membuat tidur Apak bisa nyenyak seperti dulu lagi, pandangan beliau mulai layu, tapi jelas tampak bagiku bahwa saat itu, ditengah-tengah kami yang sejak tadi sangat tidak bisa berbuat apa-apa dengan napas beliau’ apak tengah menunaikan shalat terakhirnya, Ashar.

Tamu tak di undang itu datang...


          
            Senja itu rumah sangat ramai. Entah kenapa semua sepupuku datang, mereka seolah tahu dengan perpisahan panjang yang akan segera terjadi. Dengan ajaib Apak yang biasanya berjalan dengan dipapah mendadak kuat seperti sediakala masuk kedalam kamar, langkah beliau seperti datang untuk menyahut ajakan malaikat maut yang sudah siap menjemput beliau disana, dengan sekejab beliau rebahkan tubuh yang seketika itu juga melemah, ternyata inilah detik-detik kepergian beliau. Kakak-kakakku mulai mengeluarkan tangisnya, ibu dari tadi berada disamping ayah mencoba memanfaatkan detik-detik terakhir itu untuk mengucap syahadat bersama, sementara aku sibuk terfikir “inilah ketetapan yang pasti datang itu” Kematian, kata itu sangat angker terdengar di ngiangan telingaku, seperti nada seram yang biasa aku perdengarkan pada pendengar dalam kultum saat MDA ku dulu.
Tidak tahu pasti kapan apak pergi senja itu, yang jelas ketika azan magrib berkumandang aku yang dari tadi menjaga apak dibagian kaki mulai merasakan hangat itu hilang, ibu ada dibagian kepala Apak, sementara kedua kakakku berada disisi kiri dan kanan beliau, segera akupun mengucap salam untuk perjalanan Apak tercinta kealam sana. Matapun kupejam mencoba membayangkan lambaian tangan kanan apak menguatkan kami yang ditinggalkan. Tangan  kiri beliau digenggam akrab oleh malaikat yang ada disebelah, aku mencoba tabah walau akhirnya air asin itu tetap memberontak keluar dari mata yang dari tadi sengaja kupicingkan untuk menahan amukannya. Apak sudah berpulang kerahmatullah, sampai esok siang hanya jasad tempat dimana ruh yang selalu dengan cinta menjaga kami sekeluarga itu bersemayam yang bisa ku pandang bangga atas perjuangan beliau yang selalu semangat melawan penyakit dengan kesungguhan iman yang beliau punya. Hormat ananda untuk Apak kami tercinta. Semoga Allah mempertemukan kita kembali bersama-sama sekeluarga disyurga-Nya. Amin


0 komentar: