Senin, 08 Oktober 2012

Keputusan Sekeping Hati itu Kini Kesyukuran Besarku..”



Langkah pertama kesyukuran ini..

Sang surya dibalik awan tampak begitu antusias menyemangatiku.  Ia seolah setuju dengan keputusan sekeping hatiku yang baru akan segera tertunai. Ia pancarkan cahayanya itu tajam-tajam. Ia tembakan sinarnya yang bergerak dengan kecepatan cahaya memasuki jendela kamar yang sejak subuh tadi sudah kubuka lebar-lebar. Bagai menyuruh aku bangun, ia colek mataku yang masih tertutup disamping sajadah. Aku ingat, tadi doaku saat subuh rupanya berujung dalam keheningan yang panjang, ya, aku tertidur saat membenamkan wajah diatas sajadah biru itu.
Pagi ini adalah hari keberangkatanku ke
Jambi. Suhu kamar semakin tinggi, karenanya ku mulai geliatkan tubuhku dari gelutan mukena yang sedari tadi masih dengan setia menggulungku. Amak sudah sibuk menyiapkan bekal kami (aku dan uni), Unipun sudah siap-siap duluan, sementara aku yang sebenarnya jadi tokoh utama dalam misi ini masih ragu dengan keputusan yang hampir setengah bagian sebenarnya telah kuberi perlakuan, sambil bertengkar dengan diri sendiri itu akupun bersiap-siap. Di Universitas jambi aku lulus pendidikan Kimia, padahal aku ingin sekali menjadi dokter, sanking ngototnya aku waktu itu pernah terbesit dihati untuk tidak mengambil peluang yang sudah membuka pintunya ini lebar-lebar agarku kuliah di Universitas negeri yang katanya dalam urusan biaya sedikit lebih ringan dibanding swasta, tabungan dari Apak aku rasa cukup untuk Amak menguliahkanku dikesehatan swasta, setidaknya bidan kalau tidak akan dokter, tapi, lagi sisi lain dihatiku mengatakan “jangan !”. tidak mau bertengkar sendiri terlalu lama akupun menghumbar gerakan peransang agar segera siap berangkat.
Akhirnya tibalah waktu aku dan uni untuk berangkat, perjalanan yang cukup ekstrim untuk kami yang baru pertama kali datang kejambi dan hanya berdua tanpa ditemani orang tua atau laki-laki yang akan menjaga. Amak tidak mau ikut, beliau berkata saatku pergi “nak.. Amak indak talok nanti maninggaan ivo disitu surang do, jadi Amak labiah baiak ivo yang maninggakan Amak dari pado ivo nan Amak tinggakan”, suara beliau kudengar ditekan, jelas sekali beliau sedang menahan desakan tangis perpisahan dengan anak bungsunya, “indak baa do mak.., jauah pulo, amak pamabuak ndak..” jawabku sekenanya berusaha membuat amak agar tidak semakin sedih.
***
            Hari sudah  menunjukkan pukul 13.00 wib, lima jam yang lalu kami bertolak dari padang menuju jambi dengan sebuah bus umum yang waktu itu masih sedikit punya penumpang, “bus-bus seperti ini biasanya banyak dapat penumpang dijalan” pemberitahuan uni padaku yang dari tadi melamun, beliau seolah menjawab kegelisahan hatinya sendiri yang mungkin sedikit takut dengan perjalanan kami hari ini, akupun mengangguk-angguk sebagai responnya. Kami duduk di cc, “makan dulu” ucap supir yag duduk disebelahku. Waktu berhenti itu hanya kami gunakan untuk shalat zuhur, kami tidak makan di rumah makan yang sekarang jadi tempat singgah bus AMANAH itu. Amak sudah menyiapkan bekal untuk kami tadi pagi, jadi kami sepakat untuk makan diatas mobil saja nanti.
            Tiga puluh menit berlalu, perjalananpun dilanjutkan. Baru beberapa kilo berjalan, supir sudah memenuhkan bangku-bangkunya yang dari tadi kosong. Kami senang karna sekarang banyak penumpang, tapi kami juga sedikit masih takut karena diantara sekian banyak penumpang hanya kami bertiga yang perempuan, selebihnya laki-laki, gadis yang satu lagi itupun cucu dari seorang kakek yang baru saja naik di muaro bungo tadi, seketika aku teringat tidakan-tidakan kriminal yang biasa tayang di TV, “ya Tuhan lindungi kami “ bisik doaku dalam hati, aku yakin uni juga berdoa yang sama waktu itu.
***
            Hari mulai gelap, uni masih tertidur, kepalanya tersadai dikaca jendela mobil sisi kiri yang ditebali kabut jalan perjalanan Padang-Jambi, aku yang baru saja terbangun mulai kalut kembali, ditambah lagi warna langit senja diluar sana tampak tidak setentram biasa menyambut malamnya tiba. Aku masih saja ragu dengan keputusanku, apakah aku akan kuat menjaga gejolak hati yang masih saja berontak ingin menjadi dokter?, apakah aku  akan betah dengan jurusan yang tanpa dilandasi kesungguhan ini?, apakah aku bisa menikmati keputusan setengah hati yang hanya kujadikan sebagai alasan agar tetap bisa kuliah di universitas negeri ini?, tanya hatiku bertubi-tubi. Unipun terbangun, beliau seolah terganggu dengan teriakan hatiku yang dari tadi ribut sendiri. “alah sampai di ma?” tanya uni sambil memperbaiki duduknya, “tadi ada bacaan Sarolangon ni”, jawabku yang terkejut ketika sibuk diskusi pribadi, “lapa...?” tanya uni lagi, “iyo ni..?” jawabku dengan suara kering. Unipun mengambil bungkusan nasi yang disiapkan Amak tadi pagi.
            Kulihat handphonku hari sudah menunjukkan pukul 07.00 wib, sepertinya tidak ada pemberhentian lagi, kamipun harus mengqodo shalat magrib nanti. Dicoba bertanya oleh uni berapa jam lagi hingga sampai, “tiga jam lagi “, jawab supir-hemat, kami yang sudah mulai merasa berurat karna hampir setengah hari duduk diatas mobil merasa sedikit lega karna sudah tahu kapan ritual duduk diam tanpa berbuat apa-apa ini akan usai.
            Malam sudah pekat, sebentar jagi sampai, aku yang dari tadi sibuk menikmati angin malam yang leluasa masuk dari jendela mobil belum juga kuasa menguasai kondisi hati yang rusuh dari tadi. Sudah jam segini, baru akan sampai, bagaimana kalau nanti aku berangkat dan pergi sendiri?, dan lagi bagaimana dengan masa depanku yang akan ku mulai dengan sekepinng hati ini?, bagaimana kalau keputusan ini salah?, hatiku kembali berargument dengan sengit ditengah siulan angin malam yang terjepit dikaca jendela mobil. Lampu-lampu pinggir jalan yang tampak berkelap kelip semakin memanaskan keadaan, kedipannya yang kencang seirama dengan tubian tanya yang menghambur keluar dari hatiku. Dibeberapa titik perjalanan yang tampak hanya kelam, dan dibeberapa titik lagi garis-garis lampu memanjang diseret kecepatan mobil yang melaju dengan kencang. 
***

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 wib, aku yang dari tadi tidak bisa tidur segera membangunkan uni. Kami sampai diloket pemberhentian AMANAH, disana sudah menunggu uda samsul, orang kampungku yang ternyata juga sudah lama bekerja dijambi, kami akan merepotkannya beberapa hari ini.
Keesokan harinya bagian yang paling melelahkan itupun dimulai, hingga akhirnya akupun resmi jadi mahasiswa UNJA pendidikan Kimia angkatan 2011 setelah mengikuti prosedur pendaftaran ulang yang begitu panjang itu, dan disinilah aku sekarang.

Kesyukuran itu mulai tampak..

            Pertama kali kuliah sangat membosankan, rutinitas itu-itu saja, hingga akhirnya kuputuskan untuk ikut kakak-kakak yang setiap hari tampak sibuk dengan rapatnya dibawah mesjid. Aku yang tidak ada egenda apa-apa memakasakan diri agar seperti beliau-beliau yang pulang sore dari kampus. Sebenarnya tidak terlalu penting, tapi sedikit demi sedikit mencontoh dan meniru dari kebiasaan baik walaupun kecil dan sedikit merupakan sesuatu yang baik menurutku, karna berpotensi ketularan, dan lagi seperti kata arif dahsyat “selama itu tidak berdosa, tidak masuk neraka, tidak melanggar hukum dan tidak masuk penjara, Lakukanlah...”.
            Lama seperti itu akhirnya akupun menjadi ketularan beneran, aku mulai dilirik kakak-kakak seniorku, mungkin beliau heran kenapa aku sering dimesjid sendiri, saat ditanya, ya.. aku senyum-senyum saja. Kesibukan pertamaku adalah Mentoring, aku yang biasanya sendiri sekarang punya banyak teman untuk berbagi, cerita-cerita tentang kuliah dan sebagainya, di forum ini aku jadi merasa lebih hidup lagi, ya, karna disini kita dilatih banyak hal, mulai dari berbicara, bersaudara, berperilaku dan menjadi mahasiswa muslim yang baik dan benar, pemuda kebanggaan Bung Karno, kepercayaan Rasulullah dan yang di nanti-nantikan Islam. Akhirnya suatu zuhur aku merasakan sesuatu yang baru, “sepertinya aku harus berbuat sesuatu dengan semua yang sudah kudapat ini”, kudengar dari Tutorku EXIST tempat yang cocok untukku berkreatifitas. Ya, aku sudah memilihnya, aku akan bergabung disana, kalau di ROHIS kita mempersiapkan ruhiyah agar mantap, di EXIST tempatnya kita membuktikan hasilnya, karna memang, kebanyakan anak-anak EXIST berprestasi itu adalah anak ROHIS. EXIST dan ROHIS Best Couple pokoknya. Aku mulai menikmati UNJA dari mereka berdua.

Kesyukuran yang sempurna...

            Hari itu aku tengah prepare untuk keberangkatan ke Bengkulu besok, aku dipercaya melakukan sesuatu disana. Tiba-tiba sepucuk sms wasiat dari salah satu senior kebanggaanku datang, seperti biasa, aku selalu bertanya maksud kalimat keramat itu jika tidak cukup mampu memahaminya, “Mewarnailah bukan diwarnai “, setelah mendapatkan penjelasan dari beliau akhirnya pembicaraan itupun bermula, Ya, aku hampir membelakangi EXIST kalau tidak dikasih tau beliau waktu itu, besok aku akan ke Bengkulu ikut kakak-kakak ROHIS dan aku belum daftar TES ONE, akhirnya pencerahan kakak itupun membuat aku berada di EXIST sekarang. Kalau ROHIS sudah pernah mengajakku ke Bengkulu melalui sebuah perlombaan, EXIST juga sudah pernah mengantarku ke Makassar melalui sebuah event Nasional dan untuk semua itu aku bersyukur teramat dalam. Fabiayyiaalairabbikumaatukadzibaan..-Ar-rahman : 55-
Beruntung di UNJA aku menemukan sosok-sosok yang begitu hebat, peduli, menginspirasi dan lagi pemurah hatinya. Sosok-sosok yang memberi tahu bagaimana cara melengkapi ketumpangan hatiku untuk berada dan tetap bertahan di Universitas Jambi ini, sehingga dengan kondisi yang ada tetap tidak kalah saing dengan siapa saja dan dimana saja, bahkan jika aku  berada di kota yang katanya kecil ini sekalipun, di Jambi.

Sosok-sosok Inspiratif aku Salut Padamu “ Menurutku,.. inspirasi itu sesuatu yang defenisinya lebih baik, kekuatan energinya mampu merubah sampah jadi permata, merubah neraka jadi syurga, merubah duri jadi bunga, merubah takut jadi tawa, merubah gubuk jadi istana, dan merubah benci jadi cinta. Yah, inspirasi itu wahyu, ia yang berdefenisi lebih baik dan diturunkan oleh sipenginspirasi pada yang di inspirasi ini bermacam rupanya, dan lagi, inspirasi itu kreatif dan melogika. 
            Ini semacam ekspresiku berucap terimakasih pada sosok inspiratif yang namanya ada dalam hatiku, beliau yang selalu menjadi sumber semangat dan motivatorku ini adalah beliau yang bicaranya selalu menabur ilmu, tindakannya teladan, dan bantuannya mencerahkan. Ia selalu menjadi baik dimataku, dan belakangan aku semakin sangat ingin menjadi seperti beliau. Semoga generasi kami bisa melakoni lakon yang lebih baik lagi untuk generasi selanjutkan. Amin.. dan semua yang sudah kurasakan kini membuat malam ini aku terfikir bahwa ternyata keputusan sekeping hatiku dulu kini menjadi kesyukuran besar bagik..

3 komentar:

Anonim
at: 5 November 2012 pukul 13.35 mengatakan...

Subhanaullahhhhhh......

Abdullah Khairul Azam says:
at: 3 Desember 2013 pukul 00.14 mengatakan...

semoga menginspirasi.. ^_^

Abdullah Khairul Azam says:
at: 3 Desember 2013 pukul 00.15 mengatakan...

semoga menginspirasi.. ^_^