Langkah pertama kesyukuran ini..
Sang surya dibalik awan tampak
begitu antusias menyemangatiku. Ia
seolah setuju dengan keputusan sekeping hatiku yang baru akan segera tertunai.
Ia pancarkan cahayanya itu tajam-tajam. Ia tembakan sinarnya yang bergerak
dengan kecepatan cahaya memasuki jendela kamar yang sejak subuh tadi sudah
kubuka lebar-lebar. Bagai menyuruh aku bangun, ia colek mataku yang masih
tertutup disamping sajadah. Aku ingat, tadi doaku saat subuh rupanya berujung
dalam keheningan yang panjang, ya, aku tertidur saat membenamkan wajah diatas
sajadah biru itu.
Pagi ini adalah hari keberangkatanku
ke
Jambi. Suhu kamar semakin tinggi, karenanya ku mulai geliatkan tubuhku dari gelutan mukena yang sedari tadi masih dengan setia menggulungku. Amak sudah sibuk menyiapkan bekal kami (aku dan uni), Unipun sudah siap-siap duluan, sementara aku yang sebenarnya jadi tokoh utama dalam misi ini masih ragu dengan keputusan yang hampir setengah bagian sebenarnya telah kuberi perlakuan, sambil bertengkar dengan diri sendiri itu akupun bersiap-siap. Di Universitas jambi aku lulus pendidikan Kimia, padahal aku ingin sekali menjadi dokter, sanking ngototnya aku waktu itu pernah terbesit dihati untuk tidak mengambil peluang yang sudah membuka pintunya ini lebar-lebar agarku kuliah di Universitas negeri yang katanya dalam urusan biaya sedikit lebih ringan dibanding swasta, tabungan dari Apak aku rasa cukup untuk Amak menguliahkanku dikesehatan swasta, setidaknya bidan kalau tidak akan dokter, tapi, lagi sisi lain dihatiku mengatakan “jangan !”. tidak mau bertengkar sendiri terlalu lama akupun menghumbar gerakan peransang agar segera siap berangkat.
Jambi. Suhu kamar semakin tinggi, karenanya ku mulai geliatkan tubuhku dari gelutan mukena yang sedari tadi masih dengan setia menggulungku. Amak sudah sibuk menyiapkan bekal kami (aku dan uni), Unipun sudah siap-siap duluan, sementara aku yang sebenarnya jadi tokoh utama dalam misi ini masih ragu dengan keputusan yang hampir setengah bagian sebenarnya telah kuberi perlakuan, sambil bertengkar dengan diri sendiri itu akupun bersiap-siap. Di Universitas jambi aku lulus pendidikan Kimia, padahal aku ingin sekali menjadi dokter, sanking ngototnya aku waktu itu pernah terbesit dihati untuk tidak mengambil peluang yang sudah membuka pintunya ini lebar-lebar agarku kuliah di Universitas negeri yang katanya dalam urusan biaya sedikit lebih ringan dibanding swasta, tabungan dari Apak aku rasa cukup untuk Amak menguliahkanku dikesehatan swasta, setidaknya bidan kalau tidak akan dokter, tapi, lagi sisi lain dihatiku mengatakan “jangan !”. tidak mau bertengkar sendiri terlalu lama akupun menghumbar gerakan peransang agar segera siap berangkat.
Akhirnya tibalah waktu aku dan uni
untuk berangkat, perjalanan yang cukup ekstrim untuk kami yang baru pertama
kali datang kejambi dan hanya berdua tanpa ditemani orang tua atau laki-laki
yang akan menjaga. Amak tidak mau ikut, beliau berkata saatku pergi “nak.. Amak
indak talok nanti maninggaan ivo disitu surang do, jadi Amak labiah baiak ivo
yang maninggakan Amak dari pado ivo nan Amak tinggakan”, suara beliau kudengar
ditekan, jelas sekali beliau sedang menahan desakan tangis perpisahan dengan
anak bungsunya, “indak baa do mak.., jauah pulo, amak pamabuak ndak..” jawabku
sekenanya berusaha membuat amak agar tidak semakin sedih.
***
Hari
sudah menunjukkan pukul 13.00 wib, lima
jam yang lalu kami bertolak dari padang menuju jambi dengan sebuah bus umum
yang waktu itu masih sedikit punya penumpang, “bus-bus seperti ini biasanya
banyak dapat penumpang dijalan” pemberitahuan uni padaku yang dari tadi
melamun, beliau seolah menjawab kegelisahan hatinya sendiri yang mungkin
sedikit takut dengan perjalanan kami hari ini, akupun mengangguk-angguk sebagai
responnya. Kami duduk di cc, “makan
dulu” ucap supir yag duduk disebelahku. Waktu berhenti itu hanya kami gunakan
untuk shalat zuhur, kami tidak makan di rumah makan yang sekarang jadi tempat singgah bus AMANAH itu. Amak sudah
menyiapkan bekal untuk kami tadi pagi, jadi kami sepakat untuk makan diatas
mobil saja nanti.
Tiga
puluh menit berlalu, perjalananpun dilanjutkan. Baru beberapa kilo berjalan,
supir sudah memenuhkan bangku-bangkunya yang dari tadi kosong. Kami senang
karna sekarang banyak penumpang, tapi kami juga sedikit masih takut karena
diantara sekian banyak penumpang hanya kami bertiga yang perempuan, selebihnya
laki-laki, gadis yang satu lagi itupun cucu dari seorang kakek yang baru saja
naik di muaro bungo tadi, seketika aku teringat tidakan-tidakan kriminal yang
biasa tayang di TV, “ya Tuhan lindungi kami “ bisik doaku dalam hati, aku yakin
uni juga berdoa yang sama waktu itu.
***
Hari
mulai gelap, uni masih tertidur, kepalanya tersadai dikaca jendela mobil sisi
kiri yang ditebali kabut jalan perjalanan Padang-Jambi, aku yang baru saja
terbangun mulai kalut kembali, ditambah lagi warna langit senja diluar sana
tampak tidak setentram biasa menyambut malamnya tiba. Aku masih saja ragu
dengan keputusanku, apakah aku akan kuat menjaga gejolak hati yang masih saja
berontak ingin menjadi dokter?, apakah aku
akan betah dengan jurusan yang tanpa dilandasi kesungguhan ini?, apakah
aku bisa menikmati keputusan setengah hati yang hanya kujadikan sebagai alasan
agar tetap bisa kuliah di universitas negeri ini?, tanya hatiku bertubi-tubi.
Unipun terbangun, beliau seolah terganggu dengan teriakan hatiku yang dari tadi
ribut sendiri. “alah sampai di ma?” tanya uni sambil memperbaiki duduknya,
“tadi ada bacaan Sarolangon ni”, jawabku yang terkejut ketika sibuk diskusi
pribadi, “lapa...?” tanya uni lagi, “iyo ni..?” jawabku dengan suara kering.
Unipun mengambil bungkusan nasi yang disiapkan Amak tadi pagi.
Kulihat
handphonku hari sudah menunjukkan
pukul 07.00 wib, sepertinya tidak ada pemberhentian lagi, kamipun harus mengqodo
shalat magrib nanti. Dicoba bertanya oleh uni berapa jam lagi hingga sampai,
“tiga jam lagi “, jawab supir-hemat, kami yang sudah mulai merasa berurat karna
hampir setengah hari duduk diatas mobil merasa sedikit lega karna sudah tahu
kapan ritual duduk diam tanpa berbuat apa-apa ini akan usai.
Malam
sudah pekat, sebentar jagi sampai, aku yang dari tadi sibuk menikmati angin
malam yang leluasa masuk dari jendela mobil belum juga kuasa menguasai kondisi
hati yang rusuh dari tadi. Sudah jam segini, baru akan sampai, bagaimana kalau
nanti aku berangkat dan pergi sendiri?, dan lagi bagaimana dengan masa depanku
yang akan ku mulai dengan sekepinng hati ini?, bagaimana kalau keputusan ini
salah?, hatiku kembali berargument dengan sengit ditengah siulan angin malam
yang terjepit dikaca jendela mobil. Lampu-lampu pinggir jalan yang tampak
berkelap kelip semakin memanaskan keadaan, kedipannya yang kencang seirama
dengan tubian tanya yang menghambur keluar dari hatiku. Dibeberapa titik
perjalanan yang tampak hanya kelam, dan dibeberapa titik lagi garis-garis lampu
memanjang diseret kecepatan mobil yang melaju dengan kencang.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00
wib, aku yang dari tadi tidak bisa tidur segera membangunkan uni. Kami sampai
diloket pemberhentian AMANAH, disana sudah menunggu uda samsul, orang kampungku
yang ternyata juga sudah lama bekerja dijambi, kami akan merepotkannya beberapa
hari ini.
Keesokan harinya bagian yang paling
melelahkan itupun dimulai, hingga akhirnya akupun resmi jadi mahasiswa UNJA
pendidikan Kimia angkatan 2011 setelah mengikuti prosedur pendaftaran ulang
yang begitu panjang itu, dan disinilah aku sekarang.
Kesyukuran itu mulai tampak..
Pertama
kali kuliah sangat membosankan, rutinitas itu-itu saja, hingga akhirnya
kuputuskan untuk ikut kakak-kakak yang setiap hari tampak sibuk dengan rapatnya
dibawah mesjid. Aku yang tidak ada egenda apa-apa memakasakan diri agar seperti
beliau-beliau yang pulang sore dari kampus. Sebenarnya tidak terlalu penting, tapi
sedikit demi sedikit mencontoh dan meniru dari kebiasaan baik walaupun kecil
dan sedikit merupakan sesuatu yang baik menurutku, karna berpotensi ketularan,
dan lagi seperti kata arif dahsyat “selama itu tidak berdosa, tidak masuk
neraka, tidak melanggar hukum dan tidak masuk penjara, Lakukanlah...”.
Lama
seperti itu akhirnya akupun menjadi ketularan beneran, aku mulai dilirik
kakak-kakak seniorku, mungkin beliau heran kenapa aku sering dimesjid sendiri,
saat ditanya, ya.. aku senyum-senyum saja. Kesibukan pertamaku adalah
Mentoring, aku yang biasanya sendiri sekarang punya banyak teman untuk berbagi,
cerita-cerita tentang kuliah dan sebagainya, di forum ini aku jadi merasa lebih
hidup lagi, ya, karna disini kita dilatih banyak hal, mulai dari berbicara,
bersaudara, berperilaku dan menjadi mahasiswa muslim yang baik dan benar,
pemuda kebanggaan Bung Karno, kepercayaan Rasulullah dan yang di nanti-nantikan
Islam. Akhirnya suatu zuhur aku merasakan sesuatu yang baru, “sepertinya aku
harus berbuat sesuatu dengan semua yang sudah kudapat ini”, kudengar dari
Tutorku EXIST tempat yang cocok untukku berkreatifitas. Ya, aku sudah
memilihnya, aku akan bergabung disana, kalau di ROHIS kita mempersiapkan
ruhiyah agar mantap, di EXIST tempatnya kita membuktikan hasilnya, karna
memang, kebanyakan anak-anak EXIST berprestasi itu adalah anak ROHIS. EXIST dan
ROHIS Best Couple pokoknya. Aku mulai
menikmati UNJA dari mereka berdua.
Kesyukuran yang sempurna...
Hari
itu aku tengah prepare untuk keberangkatan ke Bengkulu besok, aku dipercaya
melakukan sesuatu disana. Tiba-tiba sepucuk sms wasiat dari salah satu senior
kebanggaanku datang, seperti biasa, aku selalu bertanya maksud kalimat keramat
itu jika tidak cukup mampu memahaminya, “Mewarnailah bukan diwarnai “, setelah
mendapatkan penjelasan dari beliau akhirnya pembicaraan itupun bermula, Ya, aku
hampir membelakangi EXIST kalau tidak dikasih tau beliau waktu itu, besok aku
akan ke Bengkulu ikut kakak-kakak ROHIS dan aku belum daftar TES ONE, akhirnya
pencerahan kakak itupun membuat aku berada di EXIST sekarang. Kalau ROHIS sudah
pernah mengajakku ke Bengkulu melalui sebuah perlombaan, EXIST juga sudah
pernah mengantarku ke Makassar melalui sebuah event Nasional dan untuk semua itu aku
bersyukur teramat dalam. Fabiayyiaalairabbikumaatukadzibaan..-Ar-rahman : 55-
Beruntung di UNJA aku menemukan
sosok-sosok yang begitu hebat, peduli, menginspirasi dan lagi pemurah
hatinya. Sosok-sosok yang memberi tahu bagaimana cara melengkapi ketumpangan
hatiku untuk berada dan tetap bertahan di Universitas Jambi ini, sehingga dengan
kondisi yang ada tetap tidak kalah saing dengan siapa saja dan dimana saja, bahkan
jika aku berada di kota yang katanya
kecil ini sekalipun, di Jambi.
Sosok-sosok Inspiratif aku Salut
Padamu “ Menurutku,.. inspirasi itu sesuatu yang defenisinya lebih baik, kekuatan
energinya mampu merubah sampah jadi permata, merubah neraka jadi syurga,
merubah duri jadi bunga, merubah takut jadi tawa, merubah gubuk jadi istana,
dan merubah benci jadi cinta. Yah, inspirasi itu wahyu, ia yang berdefenisi
lebih baik dan diturunkan oleh sipenginspirasi pada yang di inspirasi ini
bermacam rupanya, dan lagi, inspirasi itu kreatif dan melogika.
Ini
semacam ekspresiku berucap terimakasih pada sosok inspiratif yang namanya ada
dalam hatiku, beliau yang selalu menjadi sumber semangat dan motivatorku ini
adalah beliau yang bicaranya selalu menabur ilmu, tindakannya teladan, dan
bantuannya mencerahkan. Ia selalu menjadi baik dimataku, dan belakangan aku
semakin sangat ingin menjadi seperti beliau. Semoga generasi kami bisa melakoni
lakon yang lebih baik lagi untuk generasi selanjutkan. Amin.. dan semua yang sudah kurasakan kini membuat malam ini aku terfikir bahwa ternyata keputusan sekeping hatiku dulu kini menjadi kesyukuran besar bagik..

3 komentar:
at: 5 November 2012 pukul 13.35 mengatakan...
Subhanaullahhhhhh......
at: 3 Desember 2013 pukul 00.14 mengatakan...
semoga menginspirasi.. ^_^
at: 3 Desember 2013 pukul 00.15 mengatakan...
semoga menginspirasi.. ^_^
Posting Komentar